Beberapa waktu lalu teman jurnalis disuatu daerah sempat bertanya "kenapa berita-ku (gambar) khususnya untuk berita yang bukan bertipikal hard news sering tidak tayang ? Padahal menurut pengakuan dia, cara pengambilan gambar telah sesuai dengan SOP, dan juga angel berita yang buat juga tidak kalah dengan berita di daerah lainnya yang tayang pada saat itu. Teman itu juga mengakui bahwa keputusan penayangan memang ada di produser yang ada di pusat (Jakarta). Namun tidak adakah cara lain yang membuat kans untuk berita itu ditayangkan lebih besar.
Setelah berdiskusi cukup lama dengan temen tersebut, dapat disimpulkan bahwa kendala berita ( gambar) temen tersebut tidak / jarang tayang dikarena kendala birokrasi (tentunya internal perusahaan). Aku mengusulkan kenapa berita (gambar) dia tidak langsung dikirim keserver video kantor dijakarta? karena selama ini cara pegiriman masih dengan cara tradisonal, alias dengan cara mengriim kaset video lewat Bis Umum, yang tentunya memakan waktu cukup lama dalam perjalanan kekantor untuk diproses menjadi sebuah paket berita. Belum lagi tenaga Produser dikantor ( biro) juga terbatas tapi dengan load pekerjaan yang tinggi. Akibatnya gambar (berita) yang berkategori bukan hard news tentunya menjadi prioritas nomer sekian untuk digarap oleh produser, dan parahnya lagi berita temen daerah tersebut malah terlupakan alias tidak digarap sama sekali.
Hal ini tentu berbeda dengan mengirim secara langsung keserver video dikantor pusat tanpa melalui kantor biro. Gambar akan langsung dapat dilihat oleh banyak produser karena semua PC dikantor telah online dengan server video, sehingga setiap orang dapat melihat gambar tersebut (tentunya harus melewati proses verifikasi terlebih dahulu untuk keamanan). Hal ini tentunya berbeda kalau mengirim secara tradisonal, gambar (berita) cuma dilihat oleh beberapa gelintir produser saja. Sehingga keputusan untuk dibuat menjadi paket berita terkesan subjektif. Dan hal yang terkesan subjektif ini akan dapat diminimalisir jika dalam proses menjadi paket berita, terdapat proses adu argumen yang kuat dari beberapa produser, sehingga kualitas akan terus terjaga.
Proses adu argumen malah tidak terjadi jika dikirim lewat cara tradisional, karena yang melihat cuma segelintir (bahkan cuma seorang ) produser saja. Apalagi beban kerja yang sangat tinggi, sehingga kemampuan konsentrasi kerja, kadang2 juga berkurang. (maklum Manusia biasa).
Tentunya untuk memulai proses pengiriman secara online harus melalui proses pembelajaran lagi. Baik itu untuk editing, encoding, jaringan dan hal yang berhubungan dengan teknologi informasi lainnya. (namun apa salahnya juga kita belajar untuk sesutu yang baru, yang belum kita ketahui...akan banyak manfaatnya ketimbang mudharatnya)...
Seiring waktu teman daerah tersebut memulai proses pembelajaran pengiriman online secara otodidak ...namun masalah masih saja terjadi.......
bersambung....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar